Saya hanya merasa punya suami hanya ketika saya berhubungan suami istri. Di luar itu, saya merasa hidup sendiri. Setiap urusan rumah tangga atau urusan sekolah anak dan anak sakit, mengganti lampu kamar mandi yang mati pun, saya lakukan sendiri. Bahkan, kalaupun saya sendiri sakit, saya harus cepat mengambil keputusan untuk pergi ke dokter sendiri. Kalaupun sesekali saya minta suami mengobrol sebelum tidur, ia menolak. Sepulang kerja ia lebih suka menonton tayangan pertandingan sepak bola sampai tertidur di sofa di muka tv.

Saya sedih, jengkel, dan dada saya penuh rasanya, ingin berontak dan marah, tetapi saya tidak berdaya karena suami saya akan bersuara lebih keras dan diikuti putus komunikasi beberapa hari. Atau kalaupun suami tidak bereaksi, ia benar-benar bergeming dan tidak peduli terhadap keluhan dan omelan saya…(Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)