Sex After “Seket” – Haruskah Selalu Top dan Masuk Kotak?

Mbak Lei, sebenarnya saya (51) malu nih. Tetapi, persoalan ini ada terus dan kelihatannya tidak hilang-hilang. Begini mbak, hubungan kami sebenarnya harmonis. Ia (55) suami yang baik. Seorang pekerja keras yang tidak jarang membawa pulang pekerjaannya untuk dikerjakan di rumah dan saya kira dia jujur.

Persoalan yang saya hadapi adalah suami saya menjadi sangat sibuk jika ia ada hajat sanggama. Pasang video triple X yang terus terang kadang membuat saya muak melihatnya. Atau, ia mengeluarkan kumpulan majalah yang biasanya tersimpan rapi, yang juga mesum, atau dia minta saya membaca cerita pendek yang juga banyak seksnya. Ini terasa masih oke. Suami saya mengatakan semua itu tujuannya hanya satu saja: agar saya juga puas seperti dia. Padahal saya tidak pernah mengeluh dalam soal ini, meskipun ia tidak romantis, tipe gaya cepat…(Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)

Keberingasan Individual Remaja Dampak Keberingasan Kolektif

Schok, kaget, terpana. Menyusul kemudian rasa prihatin dan sedih yang mendalam. Itulah yang terhayati setelah membaca dan mendengar berita tentang remaja A (18 tahun) membunuh teman sepermainan serta mengancam teman lainnya untuk tidak membuka mulut dengan menempelkan pisau di leher.

Peristiwa ini terjadi di salah satu perumahan di Serpong, Jawa Barat, pada tanggal 13 Oktober 2000. Belasungkawa yang mendalam penulis sampaikan pada keluarga korban diiringi doa tulus agar arwah almarhum I di terima di sisi Tuhan Yang Maha Kasih. Amien.

“Remaja pembunuh berdarah dingin”, sebutan itulah yang diberikan pada A. Selanjutnya, tentu saja timbul berbagai pertanyaan beruntun, misalnya tentang mengapa A berperilaku sampai sedemikian beringas. Pertanyaan lain, bagaimana mungkin ia mampu melakukannya terhadap teman sepermainan…(Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)

Guru Gegabah

Apa sebabnya ibu tiga anak yang juga adalah sarjana psikologi pendidikan ini sampai menangis berjam-jam lamanya, karena guru anak-anaknya? Juga dalam suasana Idul Fitri ini saya mohon maaf atas kesalahan-kesalahan saya, terutama bagi surat-surat yang belum sempat ditanggapi.

Yang paling lembut – Ny “pemerhati” di Jkt
Ibu Leila yang baik, sesudah kejadian Mei 1998, saya (ibu tiga anak – dua remaja, satu berusia 10 tahun – dan sarjana psikologi pendidikan) jadi tersadar bahwa kita semua sangat rentan dengan bahaya. Saya takut kehilangan orang-orang yang saya cintai, suami dan anak-anak. Saya menghabiskan waktu selama 24 jam untuk mengurus anak-anak dan rumah tangga, antar-jemput anak-anak ke sekolah, les saya tunggu meski lamanya 2-3 jam, juga nonton dan main CS. Ibaratnya mereka selalu ada dalam pengawasan saya, sampai mereka tergores sedikit saja saya tahu. Bisa ibu bayangkan kedekatan saya dengan anak-anak…(Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)

Instropeksi demi Peningkatan Disiplin dan Rajin Belajar

“Saya jenuh, bosan dan sebel sama sekolah . Guru matematikanya nyebelin, dia kurang bisa mengajar, kalau mengajar  bicara sendiri di papan tulis, suaranya kurang kedengaran. Jadi aja saya benci pelajaran matematika, karena sulit dingertiin, mau nanya malas. Supaya nggak kesel terus, saya malah menggambar punggung guru itu di buku catatan matematika sambil tersenyum-senyum, sementara teman-teman lain ngobrol, bercanda, dan cekikikan. Suasana kelas tidak tenang, tetapi guru itu cuek aja, ngajar terus. Sebenarnya, saya juga jenuh sekali sekolah, saya sering mabal pada beberapa jam pelajaran yang saya kurang suka dan ngebosenin, seperti bahasa Inggris, pendidikan kewarganegaraan,
dan lain-lain juga…(Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)

Lulus atau Lolos?

Persoalan suami istri terbanyak yang masuk dalam rubrik ini adalah persoalan hadirnya orang ketiga. Akibatnya seringkali perkawinan mereka menjadi babak belur. Menarik untuk melihat apa dan bagaimana kiat pasangan “babak belur” ini menghadapi penyelewengan pasangannya, yang berhasil mengatasi dengan baik, dan yang belum, seperti yang diungkapkan dua penulis surat di bawah ini…(Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)

Arah Minat Bidang Studi Lanjut

“Ibu saat ini saya sudah selama tiga semester mengikuti kuliah di suatu fakultas untuk jurusan desain interior. Tetapi, Indeks Prestasi Kumulatif yang bisa saya raih hanya pas-pasan (IPK 2,03). Saya merasa jenuh dan terus terang kurang menyukai pelajaran yang diberikan, apalagi bila juga menyertakan perhitungan matematis. Tetapi, saya bingung,  apakah waktu tiga semester akan saya abaikan begitu saja. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.” Demikian keluhan T (20).

Selanjutnya T bercerita, bahwa keputusan melanjutkan studi di jurusan desain interior adalah keputusan berdasar pada saran teman-teman, karena menurut teman, jurusan tersebut asyik dan bidang pekerjaannya pun kelak mengasyikkan. …(Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)

Proses Belajar Perguruan Tinggi dan Problematikanya

Tanpa terasa, tahun ajaran baru menjelang di depan mata. Bagi para calon mahasiswa kiranya perlu mengantisipasi diri untuk menyesuaikan diri dengan cara belajar di perguruan tinggi (PT) yang tentu saja berbeda dengan cara belajar di SLTA. Belajar di PT memang membutuhkan penunjang berupa perangkat keras dan perangkat lunak. Kecuali itu, terdapat pula unsur-unsur yang memungkinkan berkembangnya problem yang mau tidak mau harus dihadapi mahasiswa. Pada kesempatan ini penulis akan lebih memusatkan perhatian pada sarana perangkat lunak yang justru berada dalam diri individu mahasiswa…(Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)